Punggungmu belum juga berlalu dari sudut mataku
Harummu masih tertinggal di batas hidungku
Hangatmu masih berbekas di jemari tanganmu
Tanpa rasa itu mulai dengan lembut menyiksaku
Kini aku tanpamu, sendiri dan dingin
Walau cintamu kau penjarakan di hati
Aku mencandu kehadiranmu yang hakiki
Yang bicara dan menatapku secara badani
Pagi tak lagi berenergi, menjadi redup dan gundah
Siang tak lagi berpayung awan, mendung mengangkasa
Sore pun sama, memusuhiku dengan arogan jingganya
Kala malam menjelang, langit sepi tak ada penghuni, hanya gelap
Rabu, 21 November 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar